2019 GANTI PRESIDEN KENAPA TAKUT …??

Beberapa hari ini, lini masa ramai membicarakan tentang persekusi, intimidasi serta sikap anarkismen sekelompok masyarakat, ormas bahkan juga dilakukan oleh aparat penegak hukum terhadap gerakan 2019 Ganti Presiden. Hampir disemua daerah yang melaksanakan deklarasi selalu ada kelompok yang mencoba mengganggu kegiatan tersebut. Yang paling menyedot perhatian publik adalah persekusi Neno warisman di Riau dan Ahmad dani di Jawa timur.  Ini dilakukan dengan alasan gerakan 2019 ganti presiden dianggap melanggar undang-undang, penyebar kebencian dan perpecahan dan yang lebih serius lagi adalah gerakan ini dianggap sebagai gerakan makar, yang membahayakan Negara serta pemerintah saat ini.

Jika tuduhan bahwa gerakan ini bertentangan dengan undang-undang, namun tuduhan ini terbantahkan dengan Sebagai mana yang kita dengar dari bawaslu dan KPU mengatakan bahwa gerakan 2019 Ganti Presiden adalah gerakan yang sah, bukan merupakan kampanye dan tidak melanggar peraturan yang ada. Gerakan 2019 Ganti Presiden sama kedudukannya dengan gerakan Dua Priode, Tetap Jokowi atau tagar 2019 lanjutkan. Artinya tidak ada persoalan pada gerakan ini sebagai mana gerakan yang lain yang berseberangan dengan gerakan 2019 Ganti Presiden.

Jika dikatakan bahwa gerakan ini adalah gerakan makar, tentunya tuduhan ini kita rasakan sangatlah mengada-ada. Kenapa tuduhan ini kita katakan mengada-ada, karena gerakan ini tidak untuk mengganti presiden pada saat ini namun akan berjuang menggantikannya pada perhelatanan pesta demokrasi yang akan memilih anggota dewan dan Presiden pada tahun 2019 yang akan datang. ini adalah sah dan menjadi hak warga dalam menentukan pilihannya. Dan tentunya didalam pemilihan presiden nantinya akan ada dua kemungkinan yang akan terjadi yaitu tetap lanjutkan Presiden sekarang atau diganatikan dengan presiden yang baru. Itu semua tergantung apa yang menjadi keputusan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Jadi mau tetap atau diganti presiden adalah sesuatu hal yang sah dan konstitusional.

Bila kita kilas balik kebelakang tentang sejarah munculnya gerakan 2019 Ganti Presiden ini, gerakan ini merupakan sebuah anti tesa dari gerakan yang sudah ada yaitu “Dua Priode “ dimana gerakan ini sudah bergulir terlebih dahulu di media baik cetak maupun elektronik. Gerakan ini berusaha mempengaruhi public dengan mempromosikan secara masif terhadap pencapain dan keberhasilan pemerintah sekang ini dan muncul kemudiaan diskusi-diskusi di media televisi tentang siapa yang cocok mendampingi jokowi. Dan seolah-olah tidak ada calon yang bisa menandingi Jokowi dan lebih ekstrim ada wacana calon tunggal di Pilpres 2019.

sebagai bagian dari proses demokrasi, seharusnya tidak ada yang salah dari tagar 2019 Ganti Presiden ini. Karena ini bagian dari ekspresi masyarakat didalam menyuarakan hak konstitusinya. Akan lebih elok jika yang berseberangan dengan gerakan ini membuat gerakan yang sama entah apapun namanya ya silahkan saja. Tentunya ini akan menjadi sesuatu yang menarik dalam proses demokrasi. Silahkan melakukan kreativitas sedemikian rupa sehingga mampu mempengaruhi masyarakat dalam gerakan yang di usung.

Di beberapa daerah, kita melihat aparat penegak hokum sepertinya telah bertindak terlalu jauh dalam menyikapi gerakan ini. Tentu ini amat kita sayangkan. Aparat penegak hukum adalah alat Negara yang berdiri di antara semua golongan. Bukan alat kekuasaan yang digunakan untuk menindak pihak yang dianggap berseberangan dengan kekuasaan. Jika sikap keberpihakan yang dilakukan oleh aparat penegak hukum ini tidak dihentikan tentu akan semakin memperburuk citra dari institusi yang bersangkutan dimata masyarakat. Dan akan berdampak tidak seharnya pada porses demokrasi kita kedepan.

Saya rasa kedepan jika persekusi atas gerakan 2019 ganti presiden ini terus terjadi, maka akan semakin populerkan gerakan ini di masyarakat. Dan simpati masyarakat atas gerakan bisa  semakin besar. Tentunya jika itu terjadi maka akan membahayakan eksistensi presiden Jokowi di 2019. Sudah seharusnya Presiden Jokowi memberikan arahan kepada jajarannya agar menyikapi gerakan ini dengan cara yang elegan.

Kita berharap proses demokrasi ini kedepan dapat berjalan dengan aman dan lancer, tampa menimbulkan ekses yang dapat membahayakan keutuhan bangsa kita. Tentunya ini bisa terjadi bila mana semua pihak yang terlibat dalam proses ini dapat bersikap dewasa dalam berdemokrasi. Denga mengedepankan semangat berkompetisi bukan komprontasi. Dan sering kali kita mendengar presiden kita mengatakan bahwa. Mari kita laksanakan proses demokrasi ini dengan kegembiraan dan suka cita. Lakukan demokrasi ini dengan adu gagasan, ide dan program bukan adu otot  maupun kekerasan. Sehingga proses demokrasi ini  dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih maju.

Ditulis pada Opini | Tinggalkan komentar

BUKAN JUM’AT BIASA

Tidak seperti biasanya’ selagi jam kerja sholat jum’at saya laksanakan dimasjid seberang tempat saya bekerja  , namun jum’atan saya kali ini berbeda tempat dan juga berbeda suasananya. Karena Bertepatan dengan hari perayaan  kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73, seperti biasa menjadi hari libur nasional.

Berbeda masjid tempat sholat. Jika biaasanya libur maka sholat Jum’at saya laksanankan di masjid komplek saya tinggal. Namun sholat jum’at kali ini saya laksanakan di salah satu masjid yang ada di serdam. Kebetulan pada hari itu ada acara ulang tahun bibi dari istri saya, sebagai suami yang baik dan menantu kesayangan saya menjadi sopir untuk keluarga pergi ke acara ulang tahun tersebut.

Diparagraf pertama saya mengatakan juma’at kali ini berbeda suasananya. Berbeda karena jum’at kali ini bertepatan dengan  tanggal 17 agustus  2018 yaitu hari peringatan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke 73. Jum’at ini serasa berbeda dikarenakan khotib membawakan tema tentang kemerdekaan dengan  penyampaikan khutbah jum’atnya yang begitu luar biasa semangat dalam penyampaiannya, bernas isinya, dan pembawaannya begitu menjiwai sehingga saya larut dalam suasana khutbah yang dibawakan tersebut. Jujur ketika jumatan biasanya baru khotib naik ke mimbar mata ini sudah berat bawaannya. Namun di jum’atan kali ini sama sekali tidak ada rasa ngatuk, dan begitu bersemangat mendengarkan uraian yang disampaikan si khotib.

Pada pembukaan khutbahnya terlebih dahulu khotib mengutib isi dari pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia aline ke 3 dengan kaliamat yang berbunyi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”.

Ada dua hal yang khotib simpulkan dari pengalan kalimat tersebut. Yang pertama Kalimat ini menjelaskan bagaimana kesadaran para pendahulu kita akan campur tangan Allah dalam mengiringi perjuanga bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah. Secara nalar manusia tidak mungkin bangsa ini bisa memperoleh kemerdekaannya ketika berhadapan dengan musuh saja bangsa ini  hanya dengan  menggunakan peralatan perang seadanya, bahkan kita sering mendengarkan cerita hanya bermodalkan bambu rucing, bangsa ini  dapat mengalahkan musuh yang menggunakan peralatan perang super canggih di masa itu. Sekali lagi kuasa Allah lah yang membuat bangsa ini mampu melawan penjajah.  Yang kedua dari alinea ke 3 tersebut memiliki makna bahwa jelas para pendahulu kita memili semangat yang membara untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang merdeka, bebas dari segala belenggu kehinaan akibat penjajahan dan memiliki keinginan kuat menjadi bangsa yang  sejajaar dengan bangsa lain.

Selanjutnya khotib mengutip alenia ke 4 pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “ kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa  dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Untuk mengurai tentang tujuan kemerdekaan dengan kenyataan hari ini khotib memulai dengan pertanyaan retoris.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 agustus 1945 boleh dikatakan bangsa ini sudah merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun kemerdekaan yang kita rasakan hari ini masih semu. Karena apa yang dicita-citakan dari kemerdekaan yang termuat didalam pembukaan UUD 1945 belum bisa kita rasakan secara utuh..

Betulkah kita sudah merdeka..??

73 tahun sudah kita merdeka, namun rakyat belum menikmati menikmati kehidupan yang adil,  makmur dan sejahtera. Cita-cita yang di diharapkan oleh pendiri bangsa belum sepenuhnya terwujud, bahkan akhir-akhir ini kita rasakan telah jauh menyimpang dari arah yang mulia tersebut. Bukti nyata, sebagian besar rakyat di negeri ini mengeluh semakin beratnya beban hidup yang harus ditanggung dalam kehidupan sehari-hari. Harga – harga kebutuhan bahan pokok hampir tidak terjangkau, biaya kesehatan semakin mahal, biaya pendidikan sering kali tidak terjangkau, beban listrik semakin mencekik, namun kondisi ini tidak dibarengi dengan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Kita rasakan akhir-akhir ini cengraman kekuatan global begitu kuat dalam bangas kita, sumber daya alam bansa kita yang melimpah hampir semua sudah dikuasai asing dan dihisap dikeruk untuk Negara asing tersebut, BUMN-BUMN strategis sedikit demi sedikit beralih kepemilikannya ke Negara lain. Kondisi ini membuat Bangsa kita menjadi semakin lemah dan menghawatirkan keberlansungannya.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Pengaruh globalisasi telah menyeret rakyat bangsa kita kehilangan jati diri budayanya, tampa disadari kita telah dijajah secara budaya oleh bangsa lain sehingga  kerusakan moral masyarakat sangat kita rasakan. Budaya hedonisme, pergaulan bebas, narkoba, sikap konsumtif telah menyeruak didalam kehidupan rakyat. Sopan santun, budaya malu, ramah tamah, tenggang rasa, saling menghormati, gotong royong sedikit demi sedikit hilang ditengah masyarakat kita. Kondisi ini membusat masyarakat kita kehilangan budaya ketimurannya. Dan kodisi ini tidak dibarengi dengan perbaikan dalam system pendidikan kita.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Perpolitikan banga kita telah kehilangan arah. Politik yang seharusnya menjadi alat pejuangan untuk mensejahterakan rakyat beralih arahnya  hanya berkutat pada perebutan kekuasaan semata. Politisi hanya tertuju pada perebutan dan mempertahankan kekuasaan semata yang terkadang tak jarang menghalalkan segala cara, tampa mengindahkan nilai dan norma yang ada. Kekuasaan dimanfaatkan untuk kelompok dan golongannya sendiri. masyarakat hanya di jadikan tumbal  untuk mendapatkan kakuasaan dan harkat dan martabatnya di abaikan.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Ketimpanga penegakan hukum masih sangat terasa. Hukum ibarat mata pisau yang tajam kebawah namun tumpul keatas. Ketika berhadapan dengan rakyat kecil hukum berada pada relnya namun ketika berhadapan dengan yang punya kuasa, pejabat, pemodal, aparat hukum menjadi tidak berdaya. Penanganan hukum koruptor belum memberikan efek jera dan malah kita rasakan korupsi semakin menjai-jadi sehingga menggerogoti selururuh aspek kehidupan bangsa kita.

Pada akhir khotahnya kotib berkesimpulan bahwa. inilah sederet fakta yang ada setelah 73 tahun kita mereka. cita-cita pendahulu bangsa kita dalam mendirikan bangsa ini masih jauh dari harapan. Sebagai generasi penerus, tentunya kita memiliki tanggung jawab moral untuk menanggung beban meneruskan perjuangan pendahulu kita. Tangguang jawab ini merupakan ungkapan rasa sukur kita terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita dan juga ungkapan rasa sukur kepada Allah SWT yang telah menghadiahkan kemerdekaan ini.

Perjuangan generasi hari ini tidaklah seperti apa yang dilakukan para genarasi terdahulu yang harus menggenggam senjata dalam menghadapi musuh. Namun sebagi generasi penerus, kita bisa mengisi kemerdekaan dengan berjuang sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Sekecil apapun hal yang kita lakuakan pada profesi kita selama itu untuk kebaiakan. Maka itu merupakan bagian dari usaha kita sebagai penerus dalam mengisi kemerdekaan.

Dalam khutbah terakhir khotib mengutip perkataan bung karno yaitu  “ Jas Merah”  artinya kita jangan parnah melupakan sejarah  dengan melupakan perjuangan para pahlawan yang telah memerdekakan bangsa ini. Dan ajarkan anak cucu kita tentang cerita para pahlawan dan perjuangannya dalam memerdekakan Negara ini. Sehingga dengan ini generasi kedepan tidak menyia-nyiakan kemerdekaan yang telah bangsa ini peroleh, serta berusaha mewujudkan apa yang menjadi cita-cita para pendahulu kita.

Kakibloger, 27 Agustus 2018

Ditulis pada Opini | Tinggalkan komentar

Seni dan Budaya

Ditulis pada Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hari Yang Bersejarah

Motivasi Sukses

Sumber: Jagad.id

Alhamdulillah, hari ini merupakah hari yang spesial buat saya. Setelah sekian lama keinginan belajar membuat tulian melalui blog bisa terlaksana. mungkin  termasuk telambat dalam hal pengenalan saya terhadap blog, namun bagi saya ini tidak masalah dibandingkan tidak sama sekali.

Harapan saya dari blog ini   dapat menjadi sarana untuk mengaktualisasi hobi  saya dalam hal tulis menulis. Memang banyak sarana yang lain selain blog, namun saya memilih sarana blog karena lebih bisa menjadi sarana aktualisasi pandangan saya secara utuh terhadap berbagai topil permasalahan baik itu pendidikan, ekonomi, sosial budaya dan lainnya.

 

 

Ditulis pada Kesehatan, Opini, Pendidikan | Tag | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start writing!

Ditulis pada Uncategorized | 1 Komentar