BUKAN JUM’AT BIASA

Tidak seperti biasanya’ selagi jam kerja sholat jum’at saya laksanakan dimasjid seberang tempat saya bekerja  , namun jum’atan saya kali ini berbeda tempat dan juga berbeda suasananya. Karena Bertepatan dengan hari perayaan  kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 73, seperti biasa menjadi hari libur nasional.

Berbeda masjid tempat sholat. Jika biaasanya libur maka sholat Jum’at saya laksanankan di masjid komplek saya tinggal. Namun sholat jum’at kali ini saya laksanakan di salah satu masjid yang ada di serdam. Kebetulan pada hari itu ada acara ulang tahun bibi dari istri saya, sebagai suami yang baik dan menantu kesayangan saya menjadi sopir untuk keluarga pergi ke acara ulang tahun tersebut.

Diparagraf pertama saya mengatakan juma’at kali ini berbeda suasananya. Berbeda karena jum’at kali ini bertepatan dengan  tanggal 17 agustus  2018 yaitu hari peringatan kemerdekaan Negara Republik Indonesia yang ke 73. Jum’at ini serasa berbeda dikarenakan khotib membawakan tema tentang kemerdekaan dengan  penyampaikan khutbah jum’atnya yang begitu luar biasa semangat dalam penyampaiannya, bernas isinya, dan pembawaannya begitu menjiwai sehingga saya larut dalam suasana khutbah yang dibawakan tersebut. Jujur ketika jumatan biasanya baru khotib naik ke mimbar mata ini sudah berat bawaannya. Namun di jum’atan kali ini sama sekali tidak ada rasa ngatuk, dan begitu bersemangat mendengarkan uraian yang disampaikan si khotib.

Pada pembukaan khutbahnya terlebih dahulu khotib mengutib isi dari pembukaan UUD 1945 Republik Indonesia aline ke 3 dengan kaliamat yang berbunyi “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya”.

Ada dua hal yang khotib simpulkan dari pengalan kalimat tersebut. Yang pertama Kalimat ini menjelaskan bagaimana kesadaran para pendahulu kita akan campur tangan Allah dalam mengiringi perjuanga bangsa ini dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah. Secara nalar manusia tidak mungkin bangsa ini bisa memperoleh kemerdekaannya ketika berhadapan dengan musuh saja bangsa ini  hanya dengan  menggunakan peralatan perang seadanya, bahkan kita sering mendengarkan cerita hanya bermodalkan bambu rucing, bangsa ini  dapat mengalahkan musuh yang menggunakan peralatan perang super canggih di masa itu. Sekali lagi kuasa Allah lah yang membuat bangsa ini mampu melawan penjajah.  Yang kedua dari alinea ke 3 tersebut memiliki makna bahwa jelas para pendahulu kita memili semangat yang membara untuk menjadikan bangsa ini bangsa yang merdeka, bebas dari segala belenggu kehinaan akibat penjajahan dan memiliki keinginan kuat menjadi bangsa yang  sejajaar dengan bangsa lain.

Selanjutnya khotib mengutip alenia ke 4 pembukaan UUD 1945 yang berbunyi “ kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa  dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Untuk mengurai tentang tujuan kemerdekaan dengan kenyataan hari ini khotib memulai dengan pertanyaan retoris.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Dengan proklamasi kemerdekaan pada 17 agustus 1945 boleh dikatakan bangsa ini sudah merdeka dari penjajahan secara fisik. Namun kemerdekaan yang kita rasakan hari ini masih semu. Karena apa yang dicita-citakan dari kemerdekaan yang termuat didalam pembukaan UUD 1945 belum bisa kita rasakan secara utuh..

Betulkah kita sudah merdeka..??

73 tahun sudah kita merdeka, namun rakyat belum menikmati menikmati kehidupan yang adil,  makmur dan sejahtera. Cita-cita yang di diharapkan oleh pendiri bangsa belum sepenuhnya terwujud, bahkan akhir-akhir ini kita rasakan telah jauh menyimpang dari arah yang mulia tersebut. Bukti nyata, sebagian besar rakyat di negeri ini mengeluh semakin beratnya beban hidup yang harus ditanggung dalam kehidupan sehari-hari. Harga – harga kebutuhan bahan pokok hampir tidak terjangkau, biaya kesehatan semakin mahal, biaya pendidikan sering kali tidak terjangkau, beban listrik semakin mencekik, namun kondisi ini tidak dibarengi dengan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Kita rasakan akhir-akhir ini cengraman kekuatan global begitu kuat dalam bangas kita, sumber daya alam bansa kita yang melimpah hampir semua sudah dikuasai asing dan dihisap dikeruk untuk Negara asing tersebut, BUMN-BUMN strategis sedikit demi sedikit beralih kepemilikannya ke Negara lain. Kondisi ini membuat Bangsa kita menjadi semakin lemah dan menghawatirkan keberlansungannya.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Pengaruh globalisasi telah menyeret rakyat bangsa kita kehilangan jati diri budayanya, tampa disadari kita telah dijajah secara budaya oleh bangsa lain sehingga  kerusakan moral masyarakat sangat kita rasakan. Budaya hedonisme, pergaulan bebas, narkoba, sikap konsumtif telah menyeruak didalam kehidupan rakyat. Sopan santun, budaya malu, ramah tamah, tenggang rasa, saling menghormati, gotong royong sedikit demi sedikit hilang ditengah masyarakat kita. Kondisi ini membusat masyarakat kita kehilangan budaya ketimurannya. Dan kodisi ini tidak dibarengi dengan perbaikan dalam system pendidikan kita.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Perpolitikan banga kita telah kehilangan arah. Politik yang seharusnya menjadi alat pejuangan untuk mensejahterakan rakyat beralih arahnya  hanya berkutat pada perebutan kekuasaan semata. Politisi hanya tertuju pada perebutan dan mempertahankan kekuasaan semata yang terkadang tak jarang menghalalkan segala cara, tampa mengindahkan nilai dan norma yang ada. Kekuasaan dimanfaatkan untuk kelompok dan golongannya sendiri. masyarakat hanya di jadikan tumbal  untuk mendapatkan kakuasaan dan harkat dan martabatnya di abaikan.

Betulkah kita sudah merdeka…??

Ketimpanga penegakan hukum masih sangat terasa. Hukum ibarat mata pisau yang tajam kebawah namun tumpul keatas. Ketika berhadapan dengan rakyat kecil hukum berada pada relnya namun ketika berhadapan dengan yang punya kuasa, pejabat, pemodal, aparat hukum menjadi tidak berdaya. Penanganan hukum koruptor belum memberikan efek jera dan malah kita rasakan korupsi semakin menjai-jadi sehingga menggerogoti selururuh aspek kehidupan bangsa kita.

Pada akhir khotahnya kotib berkesimpulan bahwa. inilah sederet fakta yang ada setelah 73 tahun kita mereka. cita-cita pendahulu bangsa kita dalam mendirikan bangsa ini masih jauh dari harapan. Sebagai generasi penerus, tentunya kita memiliki tanggung jawab moral untuk menanggung beban meneruskan perjuangan pendahulu kita. Tangguang jawab ini merupakan ungkapan rasa sukur kita terhadap apa yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu kita dan juga ungkapan rasa sukur kepada Allah SWT yang telah menghadiahkan kemerdekaan ini.

Perjuangan generasi hari ini tidaklah seperti apa yang dilakukan para genarasi terdahulu yang harus menggenggam senjata dalam menghadapi musuh. Namun sebagi generasi penerus, kita bisa mengisi kemerdekaan dengan berjuang sesuai dengan kapasitas kita masing-masing. Sekecil apapun hal yang kita lakuakan pada profesi kita selama itu untuk kebaiakan. Maka itu merupakan bagian dari usaha kita sebagai penerus dalam mengisi kemerdekaan.

Dalam khutbah terakhir khotib mengutip perkataan bung karno yaitu  “ Jas Merah”  artinya kita jangan parnah melupakan sejarah  dengan melupakan perjuangan para pahlawan yang telah memerdekakan bangsa ini. Dan ajarkan anak cucu kita tentang cerita para pahlawan dan perjuangannya dalam memerdekakan Negara ini. Sehingga dengan ini generasi kedepan tidak menyia-nyiakan kemerdekaan yang telah bangsa ini peroleh, serta berusaha mewujudkan apa yang menjadi cita-cita para pendahulu kita.

Kakibloger, 27 Agustus 2018

Tulisan ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *